Apa itu Bite Force Quotient?

Buaya memiliki kekuatan gigitan yang kuat.

Bite Force Quotient (BFQ) adalah nilai numerik yang digunakan untuk mewakili kekuatan gigitan hewan sambil juga mempertimbangkan faktor-faktor seperti ukuran hewan. Data kekuatan gigitan murni bisa sangat menarik, tetapi sulit untuk dibandingkan antar spesies; dengan menggunakan Bite Force Quotient, peneliti dapat membandingkan antar spesies, dan mempertimbangkan bagaimana dan mengapa hewan ini memiliki kekuatan rahang yang berbeda.

Marsupial, seperti koala, memiliki beberapa Bite Force Quotients tertinggi.

Secara klasik, kekuatan gigitan dibentuk dengan mengambil tulang rahang kering dan menggunakannya sebagai tuas untuk menentukan titik kegagalan tulang; dengan kata lain, tulang digunakan sebagai pengungkit sampai retak. Kekuatan gigitan mencerminkan jumlah tekanan yang diperlukan untuk mematahkan rahang. Dimungkinkan juga untuk menggunakan hewan hidup untuk mengumpulkan data, dengan membuat hewan menggigit objek yang telah dilengkapi dengan sensor tekanan. Namun, metode ini tidak sempurna, karena hewan itu mungkin tidak menggigit dengan kekuatan penuh.

Ketika Bite Force Quotient dihitung, peneliti mengambil data kekuatan gigitan dan mempertimbangkannya di samping ukuran hewan, ukuran maksimum mangsanya, dan jenis mangsa yang dikonsumsinya. Semua informasi ini dimasukkan ke dalam formula yang menghasilkan satu angka yang mencerminkan kekuatan gigitan dengan penyesuaian untuk faktor eksternal. Data tersebut kemudian dapat dimanipulasi dalam berbagai cara untuk melihat dunia hewan dengan mata segar.

Hebatnya, marsupial tampaknya memiliki beberapa Bite Force Quotients tertinggi di dunia, bersama dengan Clouded Leopards dan Tasmanian Devils, yang mendorong hewan seperti buaya keluar dari kompetisi. Namun, Bite Force Quotient yang tinggi tidak selalu berarti bahwa hewan akan melakukan kerusakan paling besar; hewan berkantung seperti koala dapat memberikan banyak kerusakan untuk ukuran tubuh mereka, misalnya, tetapi kebanyakan orang lebih suka gigitan koala daripada gigitan singa, karena singa jauh lebih besar dan lebih kuat.

Dengan melihat data dari seluruh dunia, peneliti dapat mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana hewan berevolusi, mengapa beberapa hewan memiliki Bite Force Quotient yang tinggi, dan mengapa yang lain relatif lemah. Data ini juga dapat dikumpulkan untuk hewan yang telah punah, jika tulang rahang yang mudah patah dapat diperoleh, yang berpotensi memberikan wawasan tentang bagaimana dan di mana hewan tersebut hidup.

Related Posts